Showing posts with label wisata sejarah. Show all posts
Showing posts with label wisata sejarah. Show all posts

Menelisik Jejak Imigran Jawa di Suriname

Wajah Sidin pada pas foto di surat kesehatannya terlihat gagah. Pemuda asal Pekalongan itu menggunakan ikat kepala kain khas pemuda daerah pesisir Jawa, tidak berbaju dan bercelana putih.
Dalam foto tahun 1908 yang dibuat pemerintah kolonial Belanda untuk pelengkap surat kesehatan sebagai syarat mengiriman Sidin ke Suriname itu dia berpose duduk santai dengan tangan di atas paha.
Bagi cucu Sidin, foto itu mempunyai arti penting dan bersejarah.
Maurit S Hassankhan/Sandew Hira memuat foto Sidin itu dalam buku Historische Database Van Suriname, Gegevens Over de Javaanse Immigranten (Data Sejarah Suriname, Data Imigrasi Orang Jawa) yaitu buku yang berisi data para imigran Jawa ke Suriname.

Buku yang terbit atas gagasan Amrit Consultancy dan Institut Riset Ilmu Sosial Universitas Suriname itu secara menakjubkan berhasil memuat lengkap data menyangkut 32.965 orang Jawa yang 114 tahun lalu menjadi pekerja dan bermigrasi ke Suriname.
Dalam rencana semula buku itu sebenarnya untuk memuat data imigran Hindustani ke Suriname, namun saat proyek berjalan muncul ide untuk memasukkan pula data jati diri orang-orang Jawa yang dikirim pemerintah Kolonial Belanda ke daerah jajahannya, Suriname, sejak 9 Agustus 1890 hingga 13 Desember 1939.
Pada periode itu terdapat 32.965 orang Jawa yang di kirim ke Suriname, suatu negara koloni kecil di Amerika Selatan.
Para pekerja asal Jawa itu pada 1890-1914 di berangkatkan dari Jawa dalam kelompok-kelompok kecil dari daerah pemberangkatan mereka dari Jakarta (Batavia) dan Semarang.
Di suriname mereka dipekerjakan di ladang dan pabrik perkebunan tebu, kopi, cokelat dan lainnya. Hanya pada angkatan ke 77 pada tahun 1904 mereka dipekerjakan dalam pembuatan jalan kereta api.
Selama perang Perang Dunia I para imigran Jawa itu juga ada yang dipekerjakan di tambang bauksit di Moengo, Suriname.
Dalam data yang tercantum pada buku itu dimuat nama imigran, nama orang tua, jenis kelamin, usia saat diberangkatkan, hubungan keluarga dengan pekerja lainnya, tinggi badan, agama (semua disebutkan Islam), tempat tinggal terakhir, tempat keberangkatan, tanggal tiba di Suriname, lembaga perekrut, perusahaan yang mempekerjakan, daerah tempat bekerja di Suriname, nomer kontrak dan keterangan perubahan jika ada.
Mereka dikontrak untuk bekerja selama lima tahun, tetapi kenyataannya sebagian besar dari mereka terpaksa bekerja seumur hidupnya.
Dalam buku itu disebutkan hingga pada tahun 1954 sekitar 8.684 (26 persen)imigran tersebut sudah dikembalikan ke kampung halaman masing-masing.
Mereka yang ingin tinggal menjadikan Suriname sebagai kampung halaman, tetapi disebutkan pula ada sebagian orang yang memilih menjadi warga negara Belanda ketika Suriname menjelang merdeka (1965) karena ingin mendapatkan tunjangan sosial.
Kisah Suwarto Mustaja, tokoh masyarakat Jawa Suriname, bisa menjadi contoh.
Suwarto salah seorang keturunan para imigran Jawa pada saat muda gigih berjuang bersama orang tua dan masyarakat Jawa lainnya untuk mendapatkan hak mereka agar bisa dikembalikan ke Indonesia, tetapi ketika pemerintah Belanda mengijinkan mereka pulang, ibunya justru menangis dan memilih untuk tetap tinggal di Suriname.
“Di sini kamu (Suwarto) lahir dan di sini aku akan tinggal,” kata Ibu Suwarto dengan linangan air mata.
Dengan berat hati Suwarto muda akhirnya memilih untuk tetap tinggal di Suriname, meskipun bapaknya mendesaknya agar kembali ke Indonesia.
Meski pahit hidup di perkebunan di Suriname, terpaksa mereka terima apa adanya.
Kini keturunan mereka tidak lagi bekerja di perkebunan milik perusahaan Belanda seperti orang tuanya karena perusahaan perkebunan Belanda sudah tutup atau bangkrut.
Sebagian kecil dari mereka yang mendapatkan ‘kebebasan’ itu beralih profesi menjadi pedagang dan ternyata meraih sukses, bahkan ada yang mampu mendapat pemasukan bersih US$20.000 per bulan seperti yang dialami Wilem Sugiono.
Tetapi, ada banyak pula bekas imigran dan keturunannya yang masih tetap berladang di tanah seluas 1,25 hektar dengan beragam tanaman.
Jenifer, ibu seorang anak relatif beruntung dibandingkan keturunan imigran Jawa lainnya.
Perempuan yang bersuamikan pria bernama Azis itu mengelola kafe kecil di samping hotel meiliknya.
“Saya hanya bisa sedikit berbahasa Jawa,” katanya dalam bahasa Inggris yang fasih.
Di samping bahasa Inggris, dia juga fasih berbahasa Belanda, sebagaimana sebagian besar orang keturunan Jawa lainnya.
Dengan memiliki hotel berbintang dua, cafe dan kompleks perbelanjaan dia terlihat hidup nyaman di Paramaribo, ibukota Suriname.
Paramaribo adalah kota kecil, dibandingkan kota di Indonesia, tetapi kota itu terlihat eksotik dengan gedung-gedung peninggalan Belanda yang memenuhi kota.
Tonggak hubungan
Kedubes RI di kota itu sejak 1980 hingga sekarang berusaha menjaga hubungan baik dengan Suriname, terutama dengan warga Jawa dan keturunannya yang kini berjumlah 74.760 (17,8%) dari 481.146 penduduk Suriname.
Tonggak hubungan baik itu terlihat pada pendirian Gedung Sono Budoyo pada 1990 yang mendapat bantuan dari Soeharto, Persiden RI pada masa itu.
Gedung disertai sebuah tugu yang dibangun pada tahun 1990 itu sekaligus untuk memperingati 100 tahun kedatangan orang Jawa di Suriname.
Pada tahun 2005, di suriname akan diadakan peringatan tahun ke-115 kedatangan orang Jawa di negara yang merdeka pada 25 November 1975 itu.
Pemerintah Indonesia dan Suriname melanjutkan tradisi bersahabat dengan mengadakan sejumlah pertemuan, diantaranya pertemuan Komisi Bersama Bilateral I RI-Suriname yang berlangsung di Paramaribo pada 03-05 April 2003.
Pada 22 November 2004 diadakan sidang lanjutan di Jogjakarta. Pada pertemuan kedua itu disepakati adanya sejumlah kegiatan diantaranya pelatihan di bidang otomotif bagi warga Suriname yang akan dilaksanakan di Indonesia pada 2005.
Indonesia juga akan mengundang pembicara dari Suriname untuk membahas peringatan 115 tahun imigrasi orang Jawa ke Suriname dan 100 tahun pelaksanaan transmigrasi di Indonesia.
Dalam pertemuan Direktur Pemukiman Kembali Ditjen Mobilitas Penduduk Depnakertrans Sugiarto Sumas dengan Menteri Perencanaan dan Kerjasama Pembangunan Suriname Keremchand Raghoebarshing dan Menteri Perburuhan, Pengembangan Teknologi dan Lingkungan Clifford Marica di Paramaribo terungkap keinginan kedua pihak untuk mengadakan lebih banyak kegiatan.
Diantaranya, pengiriman tenaga ahli dari Indonesia untuk melatih tenaga Suriname di berbagai bidang diantaranya pertanian, pariwisata, agribisnis, agroindustri dan pengelolaan hutan.
Suriname juga sangat berminat untuk mempelajari cara Indonesia mengembangkan daerah produktif baru untuk perkebunan atau pengembangan suatu wilayah.
Komisi bersama, sebenarnya sudah membahas berbagai bidang kerja sama kedua negara, seperti pertukaran pengalaman pembangunan nasional, meningkatkan perdagangan kedua negara, investasi, angkutan udara, turisme, kerja sama di bidang teknis, bantuan di bidang pelatihan, pendidikan, beasiswa non geloar, kerja sama di bidang komunikasi dan informasi, pencegahan kejahatan, pertahanan, dan sejumlah isu lainnya.
Kerinduan para imigran dan keturunannya akan budaya Jawa juga terungkap dalam pertemuan masyarakat keturunan imigran Jawa dengan Dubes RI Suparmin Sunjoyo dan Sugiarto Sumas di Distrik Wanica, dekat dari Paramaribo.
Sarmo, seorang warga keturunan Jawa pada kesempatan itu mendesak agar Indonesia segera megirim Guru Bahasa Jawa, Dalang, dan pengajar tari untuk mereka.
Dia juga mengharapkan Indonesia bisa mengirim pakar pertanian. Sementara keluarga imigran lainnya menagih janji pengiriman guru pencak silat.
Suparmin menjawabnya dengan simpati.
“Saya sudah bertemu dengan Sultan HB X, beliau menyangupi untuk mengirim guru bahasa Jawa, dalang dan guru tari. Jadi, saya sudah berusaha mewudjukan keinginan tersebut sebelum Pak Sarmo memintanya,” kata Suparmin lalu disambut tepuk tangan hadirin.
Mengenai, permintaan guru pencak silat, Dubes juga sudah membicarakannya dengan Prabowo, tokoh pencak silat Indonesia, sedangkan untuk penyediaan tenaga ahli pertanian, Suparmin akan membicarakannya dalam pertemuan lanjutan ketiga Komisi Bersama kedua negara dalam waktu dekat.
Interaksi Indonesia dan Suriname bisa tergambar pada antusiasme dan desakan Sarmo dan kawan-kawan akan peningkatan keterlibatan Indonesia dalam sendi-sendi kehidupan mereka.
“Indonesia adalah saudara kulo. Negara mbah kulo,” kata Sarmo.
Sarmo dan kawan-kawan memang “saudara” bagi orang Indonesia, meski berlainan kewarganegaraan.

source

10 Penjara Bawah Tanah di Indonesia


10. Penjara bawah tanah Benteng Vastenburg, Solo.
Benteng megah di tengah Kota Bengawan ini, sekarang tinggal seonggok bangunan yang tak berharga dan ditumbuhi rumput ilalang yang lebat. Dalam konteks morfologi perkotaan, benteng itu memiliki peranan penting yakni pusat hubungan Solo-Semarang. Kota Solo dalam periode XVIII-XIX, sebagai pusat perdagangan dan ditandai perkembangan kota kolonial. Uniknya, perkembangan ini tercipta dalam nuansa kekuasaan tradisionalistik Kerajaan Kasunanan Surakarta.

Di tempat itu, kekuatan pasukan Belanda dipusatkan. Konon, juga ada semacam bungker bawah tanah yang cukup luas di bawah benteng. Bungker tersebut digunakan untuk penjara para tawanan. Hal itulah yang membuat tempat tersebut tak dimungkinkan jika dijadikan bangunan bertingkat.

9. Penjara Bawah tanah Benteng Pendem, Cilacap.
Siapa sangka di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, seperti Cilacap menyimpan sebuah benteng yang sangat unik. Benteng itu bernama Benteng Pendem (Kusbatterij Op De lantong Te Tjilatjap) yang dulunya di tahun 1861 merupakan benteng pertahanan tentara Hindia Belanda saat menghadapi bangsa Indonesia.

Benteng di pesisir pantai Teluk Penyu ini menempati area seluas 6,5 hektare dengan beragam fasilitas wisata, seperti benteng, terowongan, landasan meriam, penjara bawah tanah, barak, ruang dapur, ruang senjata, jembatan kolam, gardu pos yang berisi peta strategi Belanda, kolam pemancingan, tempat istirahat, gazebo, ayunan dan sejumlah patung dinosaurus.

8. Penjara bawah tanah Benteng Malborough, Bengkulu.
Benteng Marlborough merupakan salah satu objek wisata sejarah yang terdapat di Kota Bengkulu. Objek wisata Benteng Marlborough terletak di Kelurahan Kampung Cina, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Benteng ini menjadi pusat kedudukan tentara Inggris di Bengkulu. Benteng berbentuk segi-empat dengan ukuran panjang 240 meter dan lebar 170 meter. Benteng ini didirikan oleh The Britsh East India Company pada tahun 1713 dan selesai pada tahun 1719.

Di benteng bagian barat daya terdapat di sebelah kiri dan kanan lorong benteng. Di sebelah kiri terdiri dari 7 lokal atau ruangan. Dinding ruangan tersebut dari pasangan batu kali, batu karang, bata dengan mempergunakan perekat campuran kapur, pasir dan tepung bata. Disamping ruangan tersebut terdapat juga ruangan yang teretak di bawah kaki kura-kura barat daya, yaitu rungan penjara bawah tanah, yang terdiri dari tiga ruangan yang keadaanya sangat gelap.

7. Penjara bawah tanah Benteng Rotterdam, Makassar.
Fort Rotterdam adalah benteng peninggalan kerajaan Gowa yang dibangun tahun 1545, terletak di pinggir pantai, sebelah barat kota Makassar. Bangunan dan taman-taman ini masih terawat dengan baik. Di sini ada penjara bawah tanah tempat Pangeran Diponegoro dipenjara dan di dekat pintu masuk benteng ini terdapat patung salah satu raja Gowa yang terkenal Sultan Hassanudin.

6. Penjara Kalisosok, Surabaya
Kalisosok adalah sebuah daerah di Surabaya Utara, dekat dengan Kembang Jepun dan Rajawali. Di Kalisosok ini, berdiri sebuah penjara tua dari jaman penjajahan Belanda yang kerap digunakan untuk menyiksa para pejuang kemerdekaan Indonesia. Dahulu, Kalisosok terkenal dengan keangkeran dan seramnya tempat ini. Saat ini, selepas masa kemerdekaan Indonesia, penjara tersebut sudah mulai memudar pamornya. Kalisosok banyak menampung para narapidana politik dan kelas berat, terutama jika dikaitkan dengan situasi politik dalam negeri Indonesia pada tahun 1960-1970 an yang sedang panas-panasnya. Kisah penjara kalisosok tak lepas dari kisah penjara bawah tanahnya.

5. Penjara Sukamiskin, Bandung
Merupakan salah satu penjara yang pernah mengurung Bung Karno. Penjara Sukamiskin, merupakan peninggalan pemerintah Belanda. Penjara tersebut dibangun pada 1918 dan baru berfungsi pada 1924. Dalam penjara terdapat 552 sel. Saat ini, penjara dihuni sekitar 480 narapidana. Bangunan asli khas Belanda, kental terlihat di Penjara Sukamiskin. Bahkan, ruang bawah tanah yang dipakai untuk penjahat berbahaya masih tetap dipelihara oleh petugas. Sayangnya, penjara bawah tanah tersebut tertutup untuk umum. Penjara bawah tanah tidak dipergunakan lagi. Sejak 1945, penjara bawah tanah sudah ditutup. Ruangan tersebut kini dipakai sebagai gudang penyimpanan.

4. Gedung Polwiltabes Surabaya
Gedung ini telah direstorasi pada saat Irjen Pol Anang Iskandar menjadi Kapolwitabes Surabaya 2007 lalu. Gedung utama menjadi utuh lagi. Bunker untuk penjara bawah tanah dibuka lagi meskipun tidak lagi dihuni.

Gedung utama ini memiliki empat ruangan utama. Semua ruangan itu termasuk kusen pintunya tidak ada yang berubah. Sekarang Kapolwil, Wakapolwil dan sejumlah kabag menempati gedung ini. termasuk ada ruang rapat dan lobi yang langit langitnya tinggi. Di bawahnya ada penjara bawah tanah yang tingginya satu meter. Pintu masuknya ada dua, namun sekarang yang terlihat hanya satu di sisi utara.

3. Gedung Merdeka, Bandung
Gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, Bandung, Indonesia, adalah gedung yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955. Pada saat ini digunakan sebagai museum.

Pada usianya yang lebih dari satu abad, gedung ini masih menyimpan banyak cerita. Selain ruangan bawah tanahnya yang penuh tanda tanya, termasuk penjara bawah tanahnya. Satu terowongan bawah tanah di sekitar ruangan bawah tanah itu juga disinyalir menghubungkan Gedung Merdeka dengan gedung tua lainnya.

Jalan masuk ke ruang bawah tanah di Gedung Merdeka dapat diakses dari pinggir gedung itu, tepatnya dari Jl. Cikapundung Timur. Pintu masuk ruangan bawah tanah berada di depan gedung yang dulunya berfungsi sebagai Perpustakaan Daerah Jawa Barat. Jika tidak saksama, pintu masuk ke ruang bawah tanah tidak akan terlihat. Namun, jika diperhatikan, lorong menurun selebar satu meter dan tinggi sekitar dua meter.

2. Museum Fatahillah, Jakarta
Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn. Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

1. Gedung Lawang Sewu, Semarang
Gedung yang sudah sangat terkenal dengan wisata angkernya ini berada di Semarang. Merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Pada masa penjajahan Jepang, Ruangan bawah tanah gedung ini dirubah menjadi Penjara bawah tanah atau dikenal sebagai Penjara Jongkok, hal ini karena penjara ini memiliki luas ruangan yang sempit dengan atap yang rendah.

Penjara bawah tanah Lawang Sewu ini sering dijadikan sebagai tempat eksekusi para pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap Jepang dan jasad-jasad mereka dibuang ke kali yang terletak di sebelah gedung ini. Saksi bisu perlawanan bangsa Indonesia ketika penjajahan Jepang.
 

6 Kota di Dunia Yang Hilang Dan Berhasil Ditemukan

Sebuah kota adalah gambaran peradaban penduduknya. Kota-kota yang sempat hilang dan ditemukan kembali seolah menyajikan peradaban manusia yang sempat terkubur. Beberapa kota di dunia berikut ini ditinggalkan warganya karena bermacam-macam alasan mulai dari peperangan hingga bencana alam. 

Namun sisa-sisa bangunan peninggalannya berhasil ditemukan kembali dan kini menjadi warisan budaya dunia yang dilindungi oleh UNESCO. Berikut adalah 6 kota hilang di dunia yang telah ditemukan dari berbagai sumber


1. Machu Picchu, Peru

Machu Picchu yang artinya 'gunung tua' juga terkenal dengan nama 'Kota Inca yang Hilang'. Kota ini berada di ketinggian, 2.350 meter di atas permukaan laut di lembah Urubamba, Peru.

Machu Picchu disebut sebagai simbol yang paling dikenal dari Kekaisaran Inca. Reruntuhan kota yang dinilai sebagai karya arsitektur unik peninggalan peradaban Inca ini ditetapkan sebagai World Heritage Site pada tahun 1983.

Machu Picchu dibangun sekitar tahun 1450, pada puncak kekaisaran Inca. Kota ini lalu ditinggalkan kurang dari 100 tahun kemudian, karena kekaisaran runtuh di bawah penaklukan Spanyol. Meskipun benteng terletak hanya sekitar 50 mil dari Cusco, ibukota Inca, tidak pernah ditemukan dan dihancurkan oleh Spanyol, seperti banyak peninggalan Inca lainnya.

Selama berabad-abad ditinggalkan, reruntuhan kota akhirnya ditutupi oleh hutan yang lebat. Pada tahun 1911, sejarawan dan penjelajah, Hiram Bigham menjadikan Machu Picchu sebagai perhatian dunia. 

Hipotesis Bingham mengatakan bahwa Machu Picchu merupakan tempat kelahiran penduduk tradisional dan pusat spiritual.

2. Kota Angkor, Kamboja

Angkor memiliki kedudukan penting dari kerajaan Khmer yang berkembang di abad ke-9 di Kamboja. Di lokasi tersebut terdapat jejeran bangunan kota pra-industri terbesar dan pusat spiritual terkenal di dunia.

Daerah ini ditinggalkan penduduknya ketika Kerajaan Ayutthaya menyerbu ibu kota Khmer pada tahun 1431. Peristiwa ini mendesak rakyatnya mengungsi ke selatan ke kawasan Phnom Penh.

Setelah ditinggalkan penduduknya, sisa-sisa bangunan Angkor ditutupi oleh hutan lebat. Pada tahun 2007, kota ini terlihat dari proses pemotretan satelit.

3. Kota Memphis, Mesir

Kota Memphis merupakan ibukota Mesir Kuno yang didirikan pada tahun 3100 SM. Kota ini ditinggalkan penduduknya seiring dengan munculnya kota Thebes dan Alexandria. 

Kota Memphis sempat hilang selama ribuan tahun hingga ditemukan kembali oleh ekspedisi Napoleon di akhir tahun 1700-an. Di dalam reruntuhn ini juga ditemukan piramida peninggalan Firaun.

4. Kota Petra, Yordania

Petra, dalam bahasa Yunani berarti batu, terletak di Yordania. Petra dikelilingi Gunung Harun (Jabal Harun) atau Gunung Hor atau El-Barra. Bangunan kota ini yang berupa pahatan-pahatan bangunan di dinding batu yang terukir pada tahun 9 SM. 

Pada abad ke-14, lokasi ini dipercayai sebagai tempat suci bagi umat Islam, Yahudi dan Nasrani. Setelah Perang Salib di abad ke-12, Petra kemudian hilang selama 500 tahun. Hanya penduduk lokal di wilayah Arab yang mengetahui lokasi kota ini. Kini dia menjadi tujuan wisata sejarah yang terkenal di dunia dan masuk dalam salah satu warisan budaya dunia di UNESCO.

5. Kota Pompeii, Romawi

Kota Pompeii berdiri di dekat Napoli, Campania, Italia. Pompeii hancur dan menghilang selama 16 abad setelah Gunung Vesuvius meletus pada tahun 79 M. 

Di kota ini masih terdapat mayat-mayat penduduk setempat yang tewas dan membatu akibat letusan gunung tersebut. Puing-puing bangunan kota ini bergaya Romawi kuno. 

Kota ini telah ditemukan kembali pada 1599 oleh seorang arsitek bernama Fontana yang menggali sebuah jalan baru untuk Sungai Sarno. Namun membutuhkan lebih dari 150 tahun kemudian barulah sebuah upaya/kampanye serius dilakukan untuk membebaskan kota ini dari timbunan tanah.

Raja Charles VII dari Sisilia sangat tertarik dengan temuan-temuan ini bahkan hingga ia diangkat menjadi raja Spanyol. Giuseppe Fiorelli, arkeolog Italia, mengambil tanggung jawabn untuk mengadakan ekskavasi atau penggalian pada 1860.

6. Palenque, Meksiko

Palenque adalah tempat tinggal suku Maya di kaki Gunung Tumbala, Ciapas, Meksiko yang berkembang di abad ke-7. Kota ini ditinggalkan setelah diserang suku Tonina pada tahun 703 M, lalu mulai ditinggalkan penduduknya pada tahun 800 M. 

Kota bersejarah ini tidak terlalu besar tetapi di dalamnya memiliki bangunan-bangunan dengan arsitektur indah, patung-patung, dan ukiran-ukiran yang dibuat oleh penduduk suku Maya. 

Pada tahun 2005, daerah ini ditemukan dan digali hingga mencapai luas 2,5 km persegi. Namun diperkirakan luas ini masih 10 persen dari luas kota sebenarnya.

source







Wisata Sejarah Yg Kalah Populer

images_thumb%25255B3%25255D
Wisata Sejarah?????? Ke candi?? Museum?? Bangunan kuno?? Ah, apaan tuch!?? Nggak modern banget!! Emangnya nggak ada yang lain?? Masa yang diliat cuma tumpukan batu gedhe and itu-itu aja?? Cape dech!!! Kan masih banyak tempat-tempat yang lebih modern and tentunya lebih menarik. Ini kan udah zaman modern!! Masa wisatanya masih ke tempat-tempat kaya gitu!? Nggak penting banget and cuma bikin bĂȘte aja. Ya kita kan bisa melewatkanya ke tepi pantai kuta, tempat-tempat bermain semacam jatim park ataupun dufan gitu atau. ya kita kan hidup di jaman modern gitu loch..lagian ngapain kita kesana?, Nggak menarik banget dan terkesan apa yang kita lihat Cuma itu-itu saja. Membosankan. Dan lagian kita juga gak tau apa yang ada disitu maksudnya apa!!! Ngapain kita pusing-pusing liat benda zaman doeloe??? Padahal yang kita hadapi kan zaman modern!!!.
Mungkin itu lah sedikit dari berbagai fakta yang ada seputar  remaja jika mengunjungi tempat bersejarah. Mereka terkesan tidak tertarik, eneg, dan sejenisnya. Kebanyakan mereka tidak tahu menahu tentang apa aja yang ada disitu. Yang mereka tahu hanya berbagai barang yang tak bernyawa dan diam sepanjang masa, teronggok disitu tanpa sebuah kejelasan. Mereka seakan nggak tahu hal  apa yang seharusnya diperbuat. Mereka bingung dan hanya bisa bertanya-tanya. “Ni apaan sech???”.
Mereka hanya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh gurunya saja atau guruya bahkan  malah tidak memberikan informasi yang jelas. Walhasil, yang dilakukan hanyalah mencatat, mencatat dan mencatat saja tanpa ada aktifitas lainnya. Dapat ditebak, hal yang paling banyak dilakukan oleh para murid adalah mencatat berbagai hal klasik tentang bermacam-macam temuan yang ada di lapangan. Seperti nama bangunan, tahun pembuatan, pada masa pemerintahan siapakah bangunan tersebut dibangun, dsb. Tentunya turut mewarnai kegiatan wajib dalam setiap kunjungan mereka. Kalo pun mereka bertanya, yang didapatnya adalah informasi yang nggak jelas jluntrungnya dari orang-orang sekitarnya. Atau bahkan malah menambah beban mereka saja, Karena yang diomongkan mungkin malah cuma masalah dan sesuatu yang semakin lama semakin membingungkan dia.
Wisata sejarah memang sangat penting. Bukan hanya para pelajar saja tapi juga komunitas masyarakat sangat membutuhkan akan berwisata ke tempat sejarah. Tetapi wisata sejarah sekarang  kurang diminati oleh pelajar. hal itu dikarenakan informasi yang mereka dapat tentang sejarah  masih seputar itu-itu saja. Faktor kemalasan juga yang menjadikan mereka kurang meminati wisata sejarah. Mereka hanya mendapat informasi sejarah dari guru-guru mereka yang sebenarnya tidak terlalu luas informasinya. Mereka tidak mau mencari informasi tentang wisata sejarah sendiri. Jika mereka mendengar hal-hal yang menarik dari wisata sejarah, mereka baru akan mengunjungi wisata sejarah itu. Jika mereka merasa informasi itu kurang menarik perhatian mereka, mereka juga tidak akan mengunjungi tempat wisata sejarah tersebut. Andai informasi itu lebih banyak lagi tentu mereka akan banyak pilihan sehingga mereka bisa memilih tempat wisata mana yang bagus dan baik untuk digali informasinya. Intinya para siswa ini hanya tertarik berwisata ke tempat sejarah jika ada sesuatu atau hal-hal yang menarik dari wisata sejarah itu Mungkin dari para pelajar sendiri juga tidak sadar bahwa manfaat  berwisata ke tempat sejarah itu sangat banyak. Untuk menumbuhkan kesadaran dari diri mereka sendiri sangat sulit.
Para pelajar ini hanya mermikirkan bagaimana jika mereka berwisata mereka bisa merasa senang , tanpa memikirkan dampak positive maupun negativnya untuk masa depan mereka,. Hal yang menyebabkan mengapa  wisata sejarah  kurang diminati oleh pelajar karena  banyaknya tempat-tempat wisata yang lebih modern dan lebih lengkap fasilitasnya dan tentunya juga lebih menarik. Wisata modern lebih memilki daya tarik yang besar  daripada wisata sejarah yang mungkin di benak mereka hanya menampilkan seputar sejarah tempat itu.
Ini bisa menjadi informasi sekaligus pertanyaan bagi kita . mengapa para pelajar kurang meminati wisata sejarah ? apa yang menyebabkannya? Jawabannya adalah kembali pada diri kita sendiri. Mangapa hal tersebut bisa terjadi. Karena kita memang tak akan bisa lepas dari sejarah. ”Manusia tidak dapat menyeberang dua kali dalam sungai yang sama, karena air selalu mengaliri anda” (Heraclitos, dalam Hariyono 1995)
 
tattoo 2013 car modification haircut script tattoo